Descendant Of The Sun Versi Indonesia Oleh Sutradara Hanung Bramantyo

Setelah sekian puluh tahun berselang, film kondang asal Korea Selatan kembali tayang. Kali ini, dalam versi Indonesia  melibatkan para aktor-aktris Indonesia. Akankah sepopuler versi aslinya?

Awal 2000-an, film asal negara gingseng yang sangat terkenal dan menjadi ujung tombak kemajuan film Korea Selatan diadaptasi ke versi Indonesia. Ya hampir semua orang tahu film Autumn in My Heart yang dibintangi oleh aktris nomor satu, Song Hye Kyo. Kini, Indonesia kembali lagi melakukan remake ulang film yang berlatar kisah cinta antara dokter dan seorang tentara perang.

Film ini begitu sangat terkenal pada awal 2016 sedemikian rupa sampai disinggung Presiden Indonesia ke-7  Joko Widodo  dalam kesempatan pidatonya di istana negara. Kedua aktris utama Song Hye Kyo dan pria yang berperan sebagai seorang tentara perang yaitu Song Joong Ki melangsungkan pernikahan di dunia nyata, terinspirasi dengan film yang ia bintangi, alias cinta lokasi (Cinlok).

Alur film ini terdiri dari sembilan belas episode yang dalam rentang waktu berdurasi sekitar 40-60 menit. Kisah berawal dari seorang tentara perang yang kepincut  salah satu dokter rumah sakit di sebuah kota ketika sedang menjenguk rekannya.

Pertemuan yang tidak disengaja oleh salah satu dokter itu kembali terjadi ketika keduanya mendapat tugas negara yang ditunjuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melawan pemberontakan di sebuah kawasan.

Dengan berbagai keterbatasan alat perang maupun alat medis di tengah hutan yang penuh dengan praktik kejahatan seperti peredaran obat terlarang dan perdagangan anak, beberapa kali mereka harus mengalami suasana pemberontakan dari kelompok separatis dan juga gempa bumi besar terjadi yang meluluhlantahkan berbagai bangunan termasuk pembangunan pembangkit listrik terbesar di kawasan tersebut.

Selain pemberontakan oleh kaum separatis dan juga minimnya alat tenaga medis, ada satu episode yang menggambarkan ketegangan ketika pemimpin kelompok separatis yang merupakan kawan Sang Kapten di masa lalu tertembak peluru.

Dilema seorang tenaga medis yang saat itu memiliki hubungan spesial dengan seorang tentara diuji. Akhirnya karena adanya prinsip untuk menolong sesama tanpa perlu melihat warna kulit maupun atribut diri yang melekat, haruslah dilakukan demi kemanusiaan.

Kritik atas terbitnya film ini cukup marak di tengah banyaknya penonton film di seluruh dunia. Banyak pertimbangan secara politis yang mengharuskan beberapa adegan terpaksa kena gunting sensor. Begitupun,  banyak juga  yang memuji adegan-adegan romantis dalam film itu lantaran dirasa amat menyentuh hati penontonnya. Plus minus semuanya tergambar dalam tontonan yang sudah tayang  di 32 negara Asia.

Perdebatan siapa yang berperan sebagai Kapten, pemeran utama di film versi Indonesia itu, lumayan beraneka ragam. Untuk kali ini, yang beruntung memerankan peran kapten adalah Reza Rahadian. Beberapa usulan dirujuk oleh netizen soal kepantasan pemeran utama film ini. Herjunot Ali, Rezky Aditya, hingga Nicholas Saputra disebut dalam cerita ini.

Lepas dari ragam aktor yang berminat memainkan peran sang Kapten, secara obyektif Reza Rahadian dalam memainkan peran utama sebelumnya, lumayan bagus saat berperan sebagai HOS Tjokroaminoto, tokoh sentral dan pemimpin Sarekat Islam, perintis kemerdekaan dan pernah jadi mentor awal Presiden Pertama RI, Sukarno, ketika ngekos di rumah Pak Tjokro.

Kali ini film kondang Korea Selatan tersebut akan diproduksi kembali ke dalam versi Indonesia yang dibintangi juga oleh Dian Sastro Wardoyo dengan sutradara asal Yogyakarta, Hanung Bramantyo. Apakah film ini akan sesuai dengan harapan penikmat film di tanah air?


Leave a Reply

Discover more from PUREMAGZ INDONESIA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading