Angka sembilan memiliki makna kekuatan yang tak kalah dari angka-angka lainnya. Sembilan itu bagai penjuru delapan mata angin bersama satu pusat yang setia mengelilingi kehidupan manusia. Sebagai negara dengan mayoritas umat beragama Islam, kegigihan Wali Sembilan menyebarkan keyakinan kepada masyarakat Jawa yang saat itu banyak menganut paham agama keyakinan/animisme patut kita pelajari.
Hilful Fudhul Sirajuddin Jaffar, dalam bukunya yang menarik bertajuk Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur, punya temuan yang amat menarik. Salah satu penyebar Islam di Nusantara yang penting adalah yang selama ini kita kenal sebagai Kanjeng Sunan Giri, yang makamnya ada di kota Gresik, Jawa Timur.
Luar biasanya lagi, Sunan Giri tercatat punya peran dalam pengislaman di Ambon dan Maluku Utara. Bahkan, kawasan Indonesia Timur. Mulai dari Tallo, Wajo, Ternate, Hitu, Bima, dan Sumbawa, termasuk Lombok.
Dengan itu, dapat dikatakan, Sunan Giri yang nama aslinya setelah dewasa adalah Pangeran Paku, atau semasa kecil bernama Joko Samudro, punya cerita yang fantastis. Selain diyakini merupakan figur pertama yang mendirikan lembaga pendidikan pesantren yang berada di Giri Kedaton, rupanya banyak juga para santrinya berasal dari kawasan Timur Indonesia. Namun, peran Sunan Giri menurut penuturan Hilful Fudhul, Berbagai sumber yang ia akses menyebutkan Sunan Giri merupakan pencipta gending Asmaradana dan Pucung. Beberapa studi yang berhasil dirangkum Hilful Fudhul, menunjukkan bahwa beberapa gamelan yang ada di Wilayah Yogya dan Solo dulu berasal dari Giri. Singkat cerita, pengaruh Sunan Giri sebagai salah satu penyebar Islam di Jawa dan kawasan Timur Indonesia, masih kokoh hingga abad ke-17. Makamnya di kota Gresik, hingga kini masih tetap ramai dikunjungi masyarakat dari pelbagai daerah untuk berziarah.
Sekelumit cerita ihwal Sunan Giri, hanya salah satu ilustrasi yang menggambarkan betapa penyebaran Islam ke bumi Nusantara tidak melalui paksaan, melainkan lewat medium budaya. Terbukti melalui cerita sekilas tentang Sunan Giri, betapa minat beliau melampaui sekadar segi dakwan keagamaannya saja. Melainkan juga menaruh minat pada bidang seni-budaya maupun perdagangan.
Strategi kebudayaan mengislamisasi Jawa, setidaknya Sunan Giri memilih pendekatan akultrasi budaya, dengan lebih dahulu mengikuti alur kebiasaan dan adat istiadat masing-masing daerah. Jadi, sama sekali tidak menggunakan kekerasan senjata. Dengan pendekatan budaya dan metode akulturasi budaya dengan masyarakat setempat, Islam berhasil membaur dengan tradisi yang sudah ada sebelumnya. Tak heran jika Islam yang berkembang di Jawa, boleh dikatakan bersenyawa dengan budaya lokal dan kearifan lokal. Hal ini yang membuat Islam saat itu yang masih asing dapat diterima sampai dengan hari ini.
Tapi perlu diingat, Sunan Giri hanya salah satu dari Wali Sembilan lho. Lantas siapa saja kesembilan Wali penyebar Islam di Nusantara? Selain Sunan Giri atau Pangeran Paku, yang ada di Gresik, ada juga yang namanya Raden Rahmat yang kelak dikenal sebagai Sunan Ampel, Surabaya. Sunan Bonang, atau Raden Makdum Ibrahim, lantas Sunan Kudus, atau Ja’far Shidiq, Sunan Drajat atau Raden Qasim, dan Sunan Gresik yang dikenal dengan Maulana Malik Ibrahim. Oh ya satu lagi, Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah yang berpusat di Cirebon, antara Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Sembilan wali ini hadir ke tanah Jawa sekitar tahun 1.400 masehi jauh sebelum kemunculan Kerajaan Islam Jawa berdiri antara lain Kerajaan Demak, Pajang, dan Mataram Islam. Wali yang pertama kali datang adalah Sunan Gresik atau memiliki nama lain Maulana Malik Ibrahim dan yang terakhir menyampaikan dakwah di Tanah Jawa adalah Sunan Gunung Jati.
Seperti penulis sampaikan di cerita awal tadi, penyebaran Islam para wali antara lain dengan cara menyampaikan pesan melalui medium wayang. Antara lain lewat tradisi wayang kulit, musik dan gamelan, yang sudah membudaya di era Pra Islam. Lantas baru mendirikan pesantren. Dari situ langkah awal berupa pendekatan budaya sudah dinilai berhasil, nah barulah menginjak tahap berikut, menjalin hubungan sosial. Dengan melalui pesantren yang para wali sembilan bangun, maka terjalinlah hubungan yang baik dan ikatan sosial dengan warga masyarakat setempat. Kalau pinjam istilah Bung Karno, presiden pertama negeri kita, menyesuaikan diri dengan natur dan kultur masyarakat setempat. Natur itu kondisi alamiah geografisnya. Apakah daerah itu berupa daerah pedalaman yang kondisi fisik lingkungannya berupa pertanian? Pegunungan atau Maritim?
Adapun kultur, berarti menyesuaikan dengan watak kolektif masyarakat setempat yang biasanya juga dipengaruhi oleh watak fisik lingkungannya. Warga masyarakat lokal dari daerah pertanian kayak Wonogiri atau Gunung Kidul di Jawa Tengah –ditandai dengan makam leluhur yang mendapat gelar Kyai dan Nyai–, tentunya beda sekali dengan watak masyarakat dari daerah maritim seperti di Maluku Utara. Sehingga strategi penyebaran Islam harus menggunakan metode yang berbeda-beda.
Penyampaian dakwah keislaman lewat musik berikut syair-syair lagu-lagu bercorak budaya lokal seperti tembang dandang gulo atau asmaradana, isi muatan dakwah jadi mudah dicerna secara renyah dalam benak pikiran dan hati masyarakat. Sehingga memudahkan masyarakat yang awam menyerap setiap pesan keagamaan yang diberikan.
Beberapa lagu dibuat dengan judul seperti Lir Ilir, Gambang Suling, Tombo Ati, Suluk Sunan Drajat, dan masih banyak lainnya. Alhasil, penolakan-penolakan yang sempat dihadapi oleh para sunan saat akan melakukan pendekatan ajaran Islam kepada masyarakat setempat dapat dinetralisir.
Ajaran Wali Sembilan saat ini masih diwarnai dengan pro kontra yang disuarkan oleh kelompok Islam dengan pandangan yang cenderung memisahkan antara agama dan budaya. Padahal dari sekelumit cerita tentang Sunan Giri tadi saja, sudah tergambar betapa kreatif dan inovatifnya para penyebar Islam Wali Sembilan tersebut. Apa yang dilakukan para sunan di masa lalu merupakan buah karya dari pemikiran dan gagasan para tokoh penyebar Islam yang punya penglihatan mata batin yang tajam. Orang spiritual kerap menyebut ini Penglihatan Mata Ketiga.
Semakin meningkatnya penggunaan internet oleh berbagai kalangan membuat informasi darimana saja masuk tanpa tersaring secara ketat. Semua orang lebih senang memegang gadget dan berselancar di dunia maya. Hal yang mayoritas orang lakukan untuk menambah pengetahuan tanpa perlu mengeluarkan uang yang cukup banyak. Lantas di era yang penuh manipulasi informasi baik dalam bentuk kata maupun gambar apakah berselancar melalu media online merupakan solusi yang tepat?
Leave a Reply