Empat Novel Legendaris Buah Karya Sastra China

China hanya bisa berdagang? Nanti dulu. Tahu darimana? Jangan terburu-buru menyimpulkan kalau orang-orang China hanya bisa berdagang. Jangan salah. Orang-orang China punya talenta di dunia sastra juga. Malah terkenal sangat legendaris. Tahukah Anda kalau mereka sejak dua ribu tahun sebelum masehi sudah menyadari akan pentingnya pencatatan dan pengarsipan sehingga jejak-jejak kejayaan peradaban bangsa China tidak lekang oleh waktu?  

Orang-orang modern, apalagi kalau cenderung bias pada budaya barat, dalam perkara peradaban literasi di belahan bumi barat mereka menganggap lebih dulu berkembang dalam melakukan pencatatan yang rapi terutama sejak ditemukannya mesin cetak antara tahun 1440-1450 di Mainz Jerman oleh Gutenberg. Namun teknologi cetak sebenarnya sudah ada sejak zaman prasasti yang memberikan informasi tentang peradaban sebelum masehi. Cuma itu tadi. China meski lebih dulu dari barat dalam beberapa bidang seperti dinamit, misalnya, atau mesin uap, namun tidak menjelma jadi sebuah tindakan penemuan, lantas jadi aset industri bagi negara.

Baiklah, mari kembali ke soal arsip dan dokumentasi di China. Pekerjaan menyusun catatan sejarah bisa dikatakan menjadi pekerjaan yang sangat melelahkan karena banyak dokumen-dokumen yang harus disusun secara rapih untuk bisa menemukan banyak informasi sebagai harta warisan bagi keturunan selanjutnya dan masa depan negara China kala itu. Pekerjaan ini sangat prestisius terutama pada masa Dinasti Zhou Timur saat musim semi dan gugur.      

Kalau orang modern zaman sekarang, inilah orang-orang yang berprofesi sebagai para arsiparis. Seseorang yang punya panggilan jiwa sebagai penekun bahan-bahan pustaka, buku-buku, dokumen, hingga berurusan dengan pelbagai jenis catatan. Di Inggris sekitar tahun 2005, tiba-tiba melantik Stella Remington, Direktur Arsip Nasional Inggris, sebagai Direktur Badan Intelijen Keamanan Dalam Negeri (MI-5). Bukti nyata, orang-orang yang berprofesi sebagai arsiparis macam Stella Remington, profesi seorang pengarsip tak bisa dianggap enteng.

Makanya tak heran ketika kemudian masa lalu peradaban China termasuk yang mudah dilacak oleh para sejarawan atau antoropolog dari dalam dan luar negeri China sebagai subyek studi para pakar tersebut.  

Cerita berikut, merupakan salah satu bukti nyata. Berdasar beberapa dokumen  dan catatan-catatan yang berhasil dihimpun oleh kalangan yang mencurahkan dedikasinya sebagai penjaga perpustakaan, salah satunya berhasil mendapati adanya tiga catatan awal yakni Kitab Kuno Shangshu, Dokumen Agung, dan Chunqiu. Nah, apa pula yang terkandung dalam cerita ini ihwal temuan dokumen itu?

Sebagian cerita yang ada di dokumen tersebut antara lain mengisahkan terjadinya peristiwa pembakaran dokumen di masa Qinshihuang dan juga kebakaran istana Xiansyang yang menyebabkan banyak dokumen hilang sehingga verifikasi terhadap sejarah di China perlu ditata kembali tahun demi tahun.

Jadi rupanya dari temuan tersebut terungkap adanya para seniman dan sastrawan yang lumayan banyak di kawasan lembah Sungai Yang Tze. Setidaknya belakangan kita tahu tiga dari empat novel besar hadir mewarnai dunia Sastra China. Sayangnya  yang satu novel sisanya, dilarang terbit  karena mengandung kisah ihwal perbudakan terhadap para wanita kalangan bawah yang dilakukan oleh raja-raja yang ceritanya sangat kejam dan mengenaskan.

Adapun ketiga novel yang saya sebut  barusan, kemudian   terkenal tidak hanya di China tapi juga di Jepang antara lain berjudul Impian Gedung Merah, Romansa Tiga Negara, dan Kisah Tepi Air. Sedangkan judul novel yang tidak boleh dipasarkan berjudul Bunga Plum Dalam Vas Emas.

Impian gedung merah, novel yang ditulis oleh Cao Xueqin menceritakan kisah tentang Jia Baouy , seorang keluarga bangsawan terhormat yang dekat dengan dua sepupunya yang cantik dan pintar yakni Xue Baochai dan Lin Daiyu. Anak raja itu sangat mencintai Dayu tapi karena tekanan keluarga mengharuskan Baouy menikah dengan orang lain. Perjalanan keluarga bangsawan ini berakhir tragis, yang menyebabkan kehancuran kekuasaan. Sebab oleh waktu, terbukti bahwa kehidupan keluarga yang tampak baik dan harmonis, ternyata dalamnnya rapuh.

Romansa tiga negara adalah novel yang sangat disukai oleh salah satu pendiri Dinasti Qing yaitu Nurhaci. Novel ini berkisah tentang kisah tiga sekawan yang berjuang untuk mendapatkan kembali kekuasaan Dinasti Han Timur melawan para raja yang notabene menghalalkan berbagai cara dalam mendapatkan kekuasaan.

Bentuk lain dari novel ini dipagelarkan dalam sebuah teater opera, serial televisi, dan film layar lebar. Pada tahun 2008 adaptasi dari novel ini berjudul Red Cliff yang disutradarai oleh Jhon Woo.

Jika di awal tahun 2000-an anda pernah menonton film kera sakti di stasiun televisi Indosiar maka cerita film tersebut merupakan pemaparan dari salah satu novel klasik termahsyur di China yang berjudul Kisah Tepi Air yang menceritakan hampir 100 pemberontakan karena kesewenangan para pejabat.

Di Jepang novel ini berjudul Suikoden. Menurut informasi yang beredar novel ini merupakan inspirasi dari judul komik Dragon Ball. Benar atau tidak faktanya film kedua karya ini terkenal di Indonesia bahkan beberapa klenteng dipasang patung yang berbentuk Sun Go Kong atau kera.

Bunga Plum dan Vas Emas adalah novel yang isinya menggambarkan cerita tentang keganasan para Raja China yang memperalat wanita-wanita miskin demi kepuasan nafsu seksualnya. Kekejaman novel ini menyebabkan hanya tiga karya sastra termashur di atas yang dianggap layak tayang oleh otoritas China. Kisah ini mengambil plot novel Sung Gong Kong. Pada tahun 1974, salah satu production house China membuat film serupa dengan judul The Golden Lotus yang dibintangi oleh Jackie Chan.

Pelajaran penting buat bangsa kita di tanah air? Pentingnya mulai menyadari bahwa Ketahanan Budaya Yang Kuat, Maka ketahanan nasional pun jadi kuat dan kokoh. Bahkan meminjam istilah Mathew Arnold, budayawan Inggris, bisa juga lho budaya berfungsi sebagai senjata sosial.


Leave a Reply

Discover more from PUREMAGZ INDONESIA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading