Di balik penyelenggaraan Piala Dunia 2026, Amerika Serikat tidak hanya bertindak sebagai tuan rumah bersama Kanada dan Meksiko, tetapi juga memanfaatkannya sebagai panggung besar ekonomi, pariwisata, dan penetrasi pengaruh politik melalui kerja sama erat antara pemerintah AS dan FIFA.
Sport tourism atau pariwisata dalam bentuk olahraga saat ini sedang banyak digandrungi oleh banyak kalangan muda terutama generasi z. Memiliki manfaat beragam tidak hanya menikmati keindahan pemandangan alam wisata yang menembus relung relaksasi, namun unsur lain yaitu soal kesehatan menjadi tren bagi pelancong saat ini.
Di tengah kemudahan karena majunya teknologi, mengunjungi salah satu tempat terbaik di dunia merupakan sebuah harapan dan eksistensi bagi sebagian orang. Perekembangan teknologi memudahkan setiap manusia untuk dapat mengatur seluruh jadwal, akomodasi, transportasi, sampai dengan rencana perjalanan yang detail secara personal.
Piala dunia 2026 kembali hadir memberikan permulaan baru setelah wabah Covid 19 menerpa berbagai negara. Qatar menjadi negara yang kurang beruntung dalam hal ini karena pundi-pundi dollar lari karena adanya pembatasan aturan administratif. Keuntungan secara finansial tidak terlalu besar namun bagi keberhasilan penyelenggaraan acara sudah pasti yaitu peningkatan nama baik negara mayoritas islam terkaya di dunia.
Bagaimana dengan Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada meramu Piala Dunia 2026 kali ini? Bukan hal yang sulit bagi sebuah negara adidaya dunia. Kesulitan justru bagi para wisatawan dalam mendapatkan akses visa untuk pergi ke sana karena tidak mudah bagi wisatawan asing masuk ke Amerika Serikat terutama bagi mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga atau pekerjaan di sana.
Menjelang semi final dan partai final, akomodasi di sekitar stadion turnamen menaikkan tarif hingga 20%. Peningkatan rute domestik ke kawasan New York/ New Jersey meningkat terutama saat final yang dilaksanakan di Metlife Stadium, Amerika Serikat. Para pelancong turut menyemarakan wisata belanja karena tepat lokasi piala dunia berlangsung di tengah kota dengan banyaknya brand internasional yang menjamur seperti Gucci, Balenciaga, Nike, dan lainnya.
Diperkirakan dari hasil piala dunia, aktivitas ekonomi mencapai US $ 30 Miliar, nilai yang kecil dibandingkan nilai ekonomi Amerika Serikat dari berbagai sektor seperti perbankan, teknologi, menufaktur, hiburan, dana energi yang berkisar di angka US $ 30 Triliun setiap tahunnya.
Potret perjalanan wisata di New York hampir mirip dengan perjalanan wisata kota pada umumnya. Dikelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit dan bersinggungan dengan kehidupan perkotaan yang selalu sibuk. Times Square, Patung Liberty, dan Brooklyn Bridge menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi sambil melakukan swafoto.
Sejarah Perjalanan Penemuan Benua Amerika
Tapi ngomong-ngomong soal Benua Amerika, seperti apa sih ceritanya sampai ada negara yang bernama Amerika Serikat di belahan Utara Benua Amerika, dan yang sekarang disebut Amerika Latin atau berada di belahan Selatan Benua Amerika? Nah untuk mendalami itu, baca yuuk sebuah buku bagus yang ditulis Edward Everett Hale, betajuk Christopher Columbus.
Dari judul bukunya saja pembaca sudah bisa menebak dong, kalau Benua Amerika ditemukan awal mulanya secara tidak sengaja oleh Christopher Columbus pada 1492. Semula Columbus mati-matian meyakinkan Raja Ferdinand dan Ratu Isabel dari Spanyol, bahwa dirinya sanggup berlayar ke India, asalkan kerajaan bersedia membiayai perjalanannya berikut pemberian beberapa kapal sebagai transportasi ekspedisi tim yang Columbus pimpin.
Memang semula alot karena Raja Ferdinand maupun Ratu Isabel sepertinya tidak tertarik. Tapi ketika terbetik kabar Columbus kesal bermaksud menawarkan proposal serupa kepada kerajaan Prancis, nah barulah Ratu Isabel memutuskan menaruh minat pada tawaran Columbus.
Singkat cerita, Columbus berhasil meyakinkan Ratu, maka pelayaran pun dimulai. Cuma ya itu tadi, takdir memang selalu berjalan tidak linear tapi bergerak secara lateral. Tidak bergerak garis lurus tapi memutar atau kadang berputar-putar seperti spiral. Sepertinya jalan di tempat eh tahunya tak terasa sedang bergerak maju ke depan.
Waktu sampai ke wilayah perairan yang sekarang kita kenal sebagai Benua Amerika, Columbus mengira sudah sampai India. Jadi dia perintahkanlah sang kapten kapal untuk melempar sauh di tepi pantai. Bahkan gilanya lagi, pas mulai mendarat dan menginjakkan kaki ke benua yang sekarang kita sebut Amerika, ia sedang berada di wilayah kekuasaan Khan Agung dari timur Asia, di mana Marco Polo dua abad sebelumnya telah mengembara ke beberapa negara Asia, termasuk Asia Tengah dan Asia Timur.
Tapi belakang rupanya Colombus salah kira, karena yang ia hadapi adalah suku-suku dari daerah setempat. Karena kadung sudah sempat menyangka telah sampai benua India, maka ia sebutlah suku-suku yang sebetulnya beragam itu, Suku Indian.
Jadi rupanya suku Indian yang merupakan masyarakat setempat di wilayah yang kelak kita sebut Amerika itu, membentang dari selatan seperti yang disebut Meksiko, Kuba, Venezuela, Kolombia, sampai ke belahan utara yang sekarang kita sebut Amerika Serikat.
Amerika Serikat yang terdiri dari 50 negara bagian. Jadi kira-kira begitulah cerita singkatnya asal usul Amerika Serikat.
Jadi, Amerika yang sejatinya Neo-Eropa itu, sebenarnya sejak 1492 secar bertahap jadi wilayah jajahan Spanyol, hanya kemudian sejak abad ke 17 negara-negara Eropa Barat seperti Inggris, Prancis dan Belanda, mulai merajai kawasan Asia, Afrika dan Timur Tengah. Spanyol dan Portugal yang semula merajai negara-negara kaya rempah-rempah termasuk di bumi nusantara seperti Ternate, Tidore dan Maluku Utara, masuk ke abad 17, Belanda mulai menyingkirkan Spanyol dan Portugis.
Tapi ya itu tadi, untuk Amerika Selatan atau Latin, budaya Spanyol dan Portugis tetap dominan hingga kini. Adapun Amerika belahan utara yang sekarang disebut Amerika Serikat, dikuasai oleh suku Anglo Saxon yang itu berarti Inggris, minus Irlandia dan Skotlandia yang merupakan suku Celtic.
Makanya tidak heran jika para elit politik dan pelaku bisnis kelas atas yang menguasai Washington, praktis dari ras Anglo Saxon Inggris. Dengan pengecualian John F. Kennedy yang pernah jadi presiden Amerika Serikat pertama yang beragama Katolik dan beretnik Irlandia. Barrack Obama meski bapaknya berdarah Afrika, namun ibunya juga kulit putih asli Irlandia.
Jadi ketika kemudian pada 1776 para pendiri bangsa Amerika seperti George Washington, Benyamin Franklin, James Medison, Thomas Jeferson, John Quincy Adam dan lain-lain, memproklamirkan kemerdekaan Amerika lepas dari tangan Kerajaan Inggris, sebenarnya itu lebih merupakan keberhasilan dan kemenangan kelas menengah borjouis Inggris melepaskan diri dari pengaruh dan belenggu kaum feudal dan aritokrat kerajaan Inggris.
Jadi jangan kalian samakan kemerdekaan Amerika dengan perjuangan dan proklamasi kemerdekaan India lepas dari penjajahan bangsa Inggris sebagai bangsa penjajah. Atau perjuangan dan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 lepas dari belenggu penjajahan Belanda. Beda, guys.
Jadi tidak berlebihan juga kalau dikatakan bahwa perjuangan kemerdekaan Amerika melepaskan diri dari kekuasaan Inggris di benua Amerika, bisa dibilang sebagai Perang Saudara antar sesama suku bangsa. Sekaligus secara bersamaan merupakan pemberontakan anti-kolonial, bisa juga diartikan sebagai revolusi politik, perang saudara, dan atau konflik antar kekuatan besar. Kenapa dibilang Konflik antar kekuatan besar? Sebab pada abad ke-18 saat para bapak bangsa Amerika memproklamirkan kemerdekaannya pada 1776, kaum feudal Inggris berhadapan dengan kekuatan kelas menengah borjuis yang bermukim di Amerika yang juga berhasil menyusun kekuatan militer yang sama kuatnya.
Menariknya di sini, dari semua bapak bangsa Amerika, sepertinya yang paling cerdas dan jeli membaca geopolitik Amerika adalah James Medison. Tapi justru karena gagasan Medison ihwal negara republik Amerika itulah, kelak Amerika berwatak ekspansionis alias bernafsu menjajah negara lain. menurut Madison, negara republic Amerika harus besar agar dapat memberi ruang bagi faksi-faksi yang pasti akan saling berselisih. Bahkan, dalam pemikiran politik, faksi-faksi ini tidak hanya tak terhindarkan, tetapi juga diperlukan, karena hanya kehadiran faksi-faksi yang bersainglah yang akan mencegah satu faksi untuk mendapatkan kekuatan dan memusatkan kekuasaan. Dampak gagasan ini bagi hubungan luar negeri Amerika – bahkan, bagi sejarah dunia – sangat mendalam, karena pada dasarnya hal itu mewajibkan ekspansi teritorial sebagai masalah kelangsungan hidup nasional.
Gagasan Medison inilah yang kemudian oleh Thomas Jefferson disusun sebagai arsitektur yang diperlukan untuk program ekspansionis yang, secara teori, hanya dibatasi oleh ambisi bangsa dan pantai Pasifik.
Selama abad berikutnya, orang Amerika mengekspresikan visi geopolitiknya ini, di mana ekspansi teritorial menjadi pendorong pembangunan dalam negerinya. Sekaligus sebagai pelindung keamanan dari ancaman eksternal, dengan berbagai cara. Jefferson sendiri terkenal menyebutnya sebagai ‘kekaisaran kebebasan’ Amerika.
Inilah Paradoks Amerika. Kebebasan tapi saat yang sama juga merupakan wujud dari kekaisaran. “Kekaisaran Kebebasan.” Pasar Bebas? Artinya monopoli ekonomi bukan? Demokrasi berarti yang punya tiket untuk terpilih sebagai anggota perlemen, gubernur negara bagian, maupun presiden untuk bertahta di Gedung Putih, harus orang-orang kaya dan punya dukungan dari jaringan ekonomi dan keuangan, dan kalau sekarang itu pun tidak cukup. Tapi juga dukungan jaringan yang punya akses ke ilmu pengetahuan dan informasi.
Bisa jadi awalnya karena rasa takut dan khawatir. Geografi Amerika Utara menciptakan ketidakamanan bagi Amerika Serikat, sehingga orang Amerika harus mendominasi benua tersebut. Namun antara rasa takut dan sikap agresif sejatinya beda-beda tipis bukan?
Penulis Sejarah : Hendrajit
Leave a Reply