
Seren Taun bukan sekadar pesta panen. Ia adalah untaian nilai, cinta pada tanah, penghormatan terhadap leluhur, dan ikhtiar menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Adat bukan sekadar untuk diyakini, melainkan untuk dirawat dengan penuh cinta.
Panen Raya di Kampung Kujangsari (bagian dari kawasan adat Kasepuhan Cisitu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten) merupakan momen perayaan tahunan yang mencerminkan kearifan lokal yang sangat penting, lantaran mencerminkan pula karakteristik kolektif masyarakatnya. Kegiatan yang diselenggarakan setiap tahun ini mengekspresikan rasa syukur masyarakat adat atas panen hasil bumi sebelum padi disimpan di lumbung tradisional.
Acara panen raya biasanya dilangsungkan sekitar awal bulan April atau pertengahan tahun yang diikuti oleh rangkaian tradisi Seren Taun Kasepuhan sekitar 49 hari kemudian, sebagaimana undangan yang saya terima untuk menghadiri acara pada 6-12 Juli 2026. Hanya saja, oleh sebab aktivitas saya di Jakarta, saya hanya beruntung bisa mengikuti acara pada tanggal 11 dan 12 Juli 2026.
Adapun Proses Ritual Panen menurut tradisi di kawasan adat Kasepuhan Cisitu, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten) itu, padi dipotong secara manual menggunakan alat tradisional atau etem (ani-ani) oleh warga, utamanya kaum perempuan dengan mengenakan pakaian adat.
Seperti tergambar dalam ritual budaya yang saya hadiri pada hari Minggu 12 Juli 2026 yang berpusat di Padepokan Rumah Adat, begitu padi berbuah, secara simbolik hasil Panen Raya ini tidak langsung dihabiskan atau dijual, melainkan disimpan di ribuan leuit (lumbung padi) yang tersebar di wilayah Kasepuhan, menjamin ketahanan pangan warga setempat selama setahun penuh.
Dalam pelaksanaan panen raya atau biasa disebut istilah dalam bahasa sunda DIBUAT , caranya adalah dengan mengikat gabah berbentuk pocong untuk disimpan di lumbung padi atau leuit.
Bisa dimengerti jika Ritual Panen Raya merupakan sebuah peristiwa yang dinanti-nanti masyarakat di Kesatuan Sesepuh Adat Cisitu Banten Kidul. Gabah-gabah tersebut merupakan hasil panen raya serentak pada luas 2.500 hektar sawah milik masyarakat adat. Sebelumnya oleh warga adat, padi hasil dijemur terlebih dahulu untuk pengeringan selambat-lambatnya 15 hari tergantung cuaca.
Inilah tradisi adat Kasepuhan Cisitu, yang hingga kini masih diwariskan turun-temurun, mulai dari cara memanen dengan metode dietem atau memanen padi menggunakan alat tradisional bernama ani-ani.
Hajatan tahunan tersebut berpusat di Kujangsari, Kabupaten Lebak ini, merupakan wujud tekad, niat dan tindakan warga masyarakat adat untuk terus melestarikan budaya lokal tersebut. Sekaligus ekspresi dari bersenyawanya tradisi Islam dan budaya lokal yang saling menguatkan satu sama lain.
Terkait Ketahanan Pangan yang merupakan prioritas nasional negara kita saat ini, selain kemampuan masyarakat Indonesia untuk swasembada beras, namun yang tak kalah penting adalah menjaga ketersediaan pangan ketika bangsa dan negara sedang menghadapi krisis. Untuk itu, keberadaan dan peran Leuit dalam perspektif tradisi adat Kasepuhan Cisitu, kiranya sangat menginspirasi sebagai Simbol Tempat Ketahanan Pangan. Sebagai ekspresi kesiapan warga adat untuk menyongsong pasang naik, namun juga siap menyongsong pasang surut.
Selain dari itu, acara Panen Raya tradisi adat Kasepuhan Cisitu, juga memancarkan makna simbolik solidaritas dan budaya gotong royong yang tinggi warga Adat Kasepuhan. Leuit juga sebagai simbol keberkahan dan kesejahteraan masyarakat adat dalam menjaga ketahanan pangan sehari-hari di masa yang akan datang.
Sekadar informasi, lokasi Kampung Kujangsari Lokasi ini berada di wilayah pelosok ujung selatan Banten, tepatnya di kawasan kaki Pegunungan Salak.
Perjalanan kami dari Kota Jakarta cukup memakan waktu karena letaknya yang berada di selatan Provinsi Banten. Sebelumnya Kabupaten ini termasuk daerah terpencil yang sulit dijangkau karena infrastruktur belum memadai namun perjalanan kami kali ini sungguh menemui kelancaran karena untuk menuju ke tempat ketua adat yang berada di Kampung Babakan Simpang, Desa Kujangsari, Kecamatan Cibeber, kami tidak menemukan kesulitan perjalanan darat.
Pelaksanaan acara dilakukan dari tanggal 6 hingga 13 Juli selama delapan hari dan sudah dilakukan secara tutun temurun sejak tahun 1685. Menjaga warisan leluhur, itulah yang diniatkan oleh para pemrakarsa dan pendukung hajatan tersebut.
Adapun untuk Panen Raya Tahun ini, mengangkat tema: Noong lalakon ka tukang naratas jalan ka hareup pikeun mageuhan tridisi nyumponan alam kiwari. Artinya melihat ke belakang, merintis jalan ke masa depan, dengan memperkuat tradisi.
Diolah dan ditulis oleh Hendrajit dan Murniatun
Leave a Reply