Hendrajit: Novel The Icon, Karya Frederick Forsight, Inspirasi Tanpa Batas!

Perdebatan selalu muncul di media sosial,  kali ini Hendrajit menangkap tema baru tentang persoalan saling menyalahkan antara orang yang sudah membaca buku berbusa-busa tetapi tidak menjadi cerdas atau jadi orang sukses. Wartawan yang sekarang juga dikenal sebagai pengkaji geopolitik itu  memahami betul dunia  buku sampai hafal bau khas kertas ini bergeleng kepala. Baginya, justru pandangan seperti ini cenderung membunuh semangat seseorang untuk membaca.

Bagi Hendrajit, membaca itu bukan hanya sekedar jembatan menjadi orang sukses. Itu cara pikir linear seakan membaca serta menjadi orang sukses berdasar prinsip sebab akibat. Tentu bukan, menurutnya. Membaca itu untuk memperoleh inspirasi,  seraya menemukan ketidaktahuan diri kita sehingga  lebih banyak tahu dibanding  kebanyakan orang yang belum tahu. Itulah gunanya membaca. 

Perkara setelah itu jadi orang sukses, hal penyebabnya bukan karena banyakbya buku yang dibaca. Tapi membaca mendorong terjadinya sinkronitas. Ada peristiwa paralel yang kemudian terjadi suatu kebetulan yang bermakna.

Hendrajit lanjut bercerita tentang pengalamannya beberapa tahun silam. Ia tiba-tiba ingin sekali membaca ulang novel lama karya Fredrick Forsight, The Icon. Pertama kali novel itu dibaca tahun 1993, sangat seru dan menarik. Kemudian ia mengulangi kembali membaca buku tersebut pada tahun 2007, novel tersebut bukan lagi menarik dan seru  akan tetapi lebih menginspirasi cara pandang baru melihat dunia. Pikirannya menyimpulkan  ada hal yang terlewat dari perhatian saat novel itu ia baca kali pertama pada1993. Dari baca ulang novel ini sontak muncul minat baru dalam bidang geopolitik.

Maka sejak 2007, pria yang sering diundang dalam kegiatan tingkat nasional itu memutuskan menjadi pengkaji geopolitik.

Oleh karena itu, membaca dengan tujuan menjadi sukses bukan atas prinsip sebab akibat dalam arti membaca lalu kontan jadi orang sukses.Tetapi membaca membuka berbagai terjadinya peristiwa peristiwa kebetulan tentang sinkronitas. “Kalau tidak ada dorongan dari alam bawah sadar untuk membaca ulang novel the Icon, mungkin sampai hari ini saya masih tetap jadi jurnalis,” ucapnya. 

Kita akan jadi sukses ketika membaca dalam kondisi kesadaran untuk terilhami oleh isi buku yang dibaca. Saat kita secara kebetulan memilih buku tertentu kemudian membacanya, kita sebenarnya sudah dalam keadaan siap untuk sukses. Buku bacaan yang kita pilih hanya pemantik saja. Dalam diri kita sudah siap untuk menyala. Seperti Lenin mungkin lain ceritanya  jika orang nomor satu Uni Soviet sejak 1917 itu tidak membaca novel karya Chernechevsky, What Have to be Done. Atau Mahatma Gandhi mungkin tetap jadi pengacara biasa kalau tidak tergerak membaca novel War and Peace, karya Leo Tolstoy.


Leave a Reply

Discover more from PUREMAGZ INDONESIA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading