Berwisata Ke Pontianak Menyenangkan dan Membuka Wawasan Baru

Mengulas Kota Pontianak membuka wawasan baru bagi kami ihwal keberagaman. Pontianak, ibu kota Provinsi Kalimantan Barat. Sekilas tentang Pontianak, kota yang satu ini dikenal luas sebagai Kota Khatulistiwa serta berjuluk Kota Seribu Parit. Wilayah ini terletak tepat di atas garis lintang 0 derajat dan menjadi pusat perdagangan serta kebudayaan utama di Pulau Kalimantan. Namun untuk sebuah kota yang terletak di kepulauan Kalimantan yang sangat luas itu, penduduk Pontianak hanya kurang lebih 700 ribu jiwa.

Tugu Khatulistiwa, Batu Layang, Pontianak Utara

Adapun penduduknya boleh dibilang multi-etnis. Bukan cuma suku Melayu, melainkan juga suku Dayak dan Tionghoa.

Mengenang kembali kunjungan saya dan teman-teman ke Pontianak, kami berangkat dari Bandara Soekarno Hatta menggunakan pesawat terbang menempuh perjalanan selama satu jam menuju Bandara Supadio.

Lantas kami melakukan perjalanan ke beberapa tempat di Kota karena saat itu waktu tidak memungkinkan perjalanan kami untuk ke kawasan Singkawang yang penuh dengan wisata alam seperti bukit dan pantai.

Seperti layaknya perjalanan wisata ke sebuah kota. Kota ini selalu mengunggah keistimewaan bagi kami. Perbedaan agama tidak menjadikan kota ini identik dengan kota yang mirip dengan salah satu agama. Hal ini ditandai dengan wawancara kami dengan warga setempat bahwa dalam satu kelas belajar mengajar komposisi Umat Muslim, Kristiani, maupun China kurang lebih masing-masing 1/3 dari jumlah seluruh siswa.

Pertama kali kami makan siang menuju Bubur Pedas Pak Ngah. Ya bubur ini salah satu makanan Khas Pontianak. Dulu makanan ini bukan makanan favorit karena tampilannya tidak menarik perhatian mata namun jangan salah, rasanya sungguh menggugah selera. Konon makanan yang dulunya sering dimasak oleh para tentara perang ini juga sebagai makanan cepat saji masyarakat saat itu.

Bubur Pedas Pak Ngah Pangeran Natakusumah, Pontianak

Perpaduan bubur ini antara lain nasi bubur yang dipadu padankan dengan sayuran seperti bayam dicampur dengan bumbu yang agak pedas. O, ya untuk sajian berbagai makanan pontianak memang terasa pedas.

Selain kebanyakan makanan yang disajikan berasal dari makanan tambak air ataupun juga laut, bumbu campur pedas yang disajikan juga cukup banyak, bisa dua kali lipat dari bumbu yang biasa dibuat oleh orang pada umumnya.

Campuran kacang dan teri akan selalu ditemui pada makanan khas Pontianak termasuk Bubur Pedas ini. Banyak restoran yang menyajikan bubur pedas selain Pak Ngah. Namun info yang beredar bubur ini yang paling enak dengan harga yang terjangkau sekitar Rp 25.000 per porsi. Bubur Pedas Pak Ngah beralamat di Jl Pangeran Natakusuma No 74 Sungai Bangkong Kecamatan Pontianak Kota Pontianak Kalimantan Barat.

Setelah makan siang Bubur Pedas, kami menyusuri Sungai Kapuas tepatnya di Taman Alun-Alun Kapuas. Selayaknya seperti taman kota, namun taman ini lebih memiliki nilai plus dibandingkan taman di ibukota negara karena menampilkan betapa luasnya Sungai Kapuas hingga kapal sejenis ferry maupun tongkang dapat melalui sungai ini. Kamipun menyusuri sungai menggunakan kapal kayu dengan muatan hampir dua puluh orang. Masih ada rumah-rumah pinggir sungai dengan pemandangan anak-anak kecil bermain di tepi sungai walaupun informasi di tengah masyarakat di dalam sungai kapuas masih ada buaya yang sewaktu-waktu bisa menerkam siapa saja.

Perjalananpun dilanjutkan keesokan harinya. Pagi itu di rumah warga yang letaknya dengan tugu katulistiwa, kami disuguhi makanan seperti lontong nasi yang dalamnya diisi oleh teri dan dimakan dengan sayur lontong, rasanya masih sama pedas. Selain itu kami juga disuguhi susu kedelai dengan tahu yang baru matang. Sajian ini semakin enak jika ditambahkan dengan es batu atau bisa dimakan saat hidangan sedang hangat.

Sungai Kapuas, Menyusuri Dengan Menggunakan Perahu Kayu

Lanjut kami ke tugu khatulistiwa yang letaknya  berada di Batu Layang Pontianak Utara. Tugu ini merupakan penanda bahwa garis equator atau garis lintang 0 derajat melewati kawasan ini. Garis ini membagi dua wilayah utara dan selatan bumi, karena letaknya di tengah bumi dan merupakan sumbu peredaran matahari, suhunya lebih panas, bahkan hawa jam 10 pagi bisa terasa seperti udara di siang hari.

Suhu maksimal bisa mencapai 39 derajat celsius dan terjadi di bulan Maret dan September atau biasa disebut dengan fenomena kulminasi. Hari tanpa bayangan merupakan sebuah perayaan di tugu khatulistiwa dimana saat matahari berada tepat di atas kepala atau biasa disebut titik zenit maka benda apapun tidak memiliki bayangan. Pada hari tersebut berbagai tradisi budaya dan festival dilaksanakan yakni festival kulminasi.

Dari tugu khatulistiwa menuju kawasan kota membutuhkan waktu sekitar 30 menit menggunakan ferry menyebrangi sungai kapuas atau jalan memutar lewat jembatan yang membutuhkan waktu lebih lama. Transportasi air di tempat ini layaknya di pinggir pantai, kita dapat menemui kantor pelabuhan di pinggir sungai yang dikelola oleh PT Pelabuhan Indonesia.

Pemerintah Kota Pontianak mendirikan dua banguan tempat ibadah yang cukup besar layaknya Masjid Istiqlal dengan Khatedral. Masjid Raya Mujahidin menjadi pusat dakwah di Kota Pontianak yang letaknya di Jl Ahmad Yani. Masjid ini sudah lama berdiri dari tahun 1953 yang didirikan oleh para aktivis muslim yang tergabung dalam Kongres Muslimin Indonesia (KMI), Yogyakarta.

Selain keindahan masjid, Kota Pontianak juga memiliki gereja terbesar di Asia Tenggara bernama Gereja Katedral Santo Yosef. Gereja ini memiliki kapasitas hingga 3.000 jamaat yang halaman depannya berdiri pahatan patung-patung dan bangunannya terdiri dari pilar-pilar tiang arsitektur eropa berpadu dengan ornamen suku dayak dan tionghoa.

Pontianak juga pernah mengalami sejarah masa kerajaan pada tahun 1977. Istana Kadriah merupakan bukti nyata yang masih terjaga  dan terawat hingga saat ini. Bentuk Istana Kadriyah mirip seperti rumah asli suku dayak yakni rumah radakng. Bentuknya seperti rumah panggung dengan banyak tangga didominasi dengan warna bangunan hijau dan kuning.

Sepulangnya dari berbagai tempat di Pontianak, jangan lupa sedikit menggerakkan usaha kecil setempat. Hal yang harus dibeli antara lain kue bingke, kue yang berasal dari campuran telur, santan kental, gula pasir, tepung terigu yang dicetak pada loyang berbentuk bunga. Selain itu, yang khas dari kota ini adalah agar-agar lidah buaya, bagi yang tahan rasa pahit daun ini, silahkan menikmati.

Murnia Margono, Peneliti Hukum dan Sosial-Budaya, Global Future Institute


Leave a Reply

Discover more from PUREMAGZ INDONESIA

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading