Wartawan senior asal Amerika, Eric Weiner, punya bandingan yang menarik soal khasiat minum teh dan kopi. Kalau ingin otak jadi aktif, berpikir cepat dan tidak lemot, minumlah kopi. Namun kalau ingin berpikir secara mendalam, saksama dan penuh imajinasi, minumlah teh. Apa sih istimewanya minum teh?
Minum teh di zaman modern saat ini memiliki pemaknaan yang jauh berbeda dibandingkan pada masa ribuan tahun yang lalu. Akibat arus industrialisasi, teh tidak lagi menjadi komoditas yang sesakral dahulu kala. Dahulu kala, minum teh semacam ritual upacara. Seturut tradisi, minum teh bukan cuma kebiasaan sehari-hari, melainkan senafas dengan ritual atau upacara keagamaan menurut tradisi-tradisi tertentu katakanlah di Cina dan Jepang.
Pada perkembangannya kemudian teh menjadi komoditas yang dapat dinikmati oleh sebagian besar bangsa timur pada pagi hari. Tapi jangan salah, di Inggris yang notabene termasuk bangsa Eropa, sejak abad ke 18 dan 19, ada ritual minum teh sekitar jam 4 sore. Bisa antar anggota keluarga, antar sesama teman kantor, dan sebagainya.
Sayangnya, dalam kurun beberapa tahun belakangan, pamor teh sebagai ekspresi budaya dan tradisi bangsa-bangsa Timur, sekarang menjelma menjadi café dalam nuansa yang berbeda. Misal bebebrapa café di Jakarta atau beberapa kota lainnya, menyajikan minuman yang berasal dari negeri China ini menjamur di mal-mal besar di Indonesia.
Nuansa bisnisnya lebih menonjol alih-alih sebagai tradisi budaya bangsa-bangsa Timur.
Apakah berarti era industri telah menggerus makna sakral dari tradisi minum teh? Entahlah. Yang jelas, teh kali ini mencoba bersaing dengan café kopi yang notabene lebih dulu hits dari zaman nenek moyang dan dari berbagai kelas masyarakat.
Ada istilah yang menyatakan bahwa tidak pas jika pagi hari tidak minum kopi, sering disebut di warung kopi indomie sampai sekelas Starbucks. Dengan berbagai inovasi sajian, café di mal-mal besar tidak pernah sepi pengunjung. Café dibuat dengan packaging yang menarik hati apalagi jika ada promo-promo pada saat pembukaan atau kerjasama dengan perusahaan startup, antrian panjang selalu ada dari buka hingga tutup.
Nah sekarang, mari kita telisik asal muasal teh. Bagaimana cerita ihwal teh di masa lalu? Teh ini sebenarnya sejenis daun apa? Teh kali pertama ditemukan di Tongkok Kuno oleh Kaisar Shen Nong pada tahun 2373 SM. Dahulu kala rata-rata orang timur yang belum maju dibidang industrialisasi selalu menggunakan tumbuhan sebagai obat-obatan berbagai penyakit.
Saat itu terdapat pohon liar yang ditemukan oleh Kaisar Shen Nong, daun tersebut dikeringkan kemudian di seduh, rasanya yang pahit namun menyegarkan kemudian menjadi minuman kerajaan khusus untuk kaisar.
Para Biksu yang berada di China sekitar abad ke 7 kemudian membawa teh kering tersebut ke Jepang untuk disebarluaskan ke berbagai tempat karena etnis China dan Jepang kala itu memiliki kemiripan akibat posisi geografis yang berdekatan tetapi untuk urusan budaya minum teh di China berbeda dengan Jepang.
Di Jepang, budaya minum teh melambangkan keramahtamahan kepada tamu yang datang pada sebuah acara, nama tradisi ini Sadou. Kemudian tradisi ini berkembang menjadi kewajiban bagi seluruh kalangan untuk menerapkan cara minum yang sopan dan baik sebagai identitas bagi kalangan orang Jepang terutama kelas atas saat itu.
Minum teh bagi orang Jepang merupakan relaksasi terbaik karena kegiatan ini diartikan untuk meninggalkan barang sejenak kehidupan luar dan melakukan daur ulang segala pemikiran maupun meditasi yang baik. Bahkan ruangan khusus untuk minum kopi yang disebut dengan Chanoyu disiapkan.
Namun minum teh saat ini sudah sangat modern, bahkan penemuan baru dengan nama Teh Matcha tidak hanya dijadikan minuman khusus penghangat tubuh namun sari teh ini sudah banyak digunakan sebagai bahan utama pembuatan europe cake seperti matcha tiramisu.
Budaya minum teh yang dulu hanya menjadi minuman istimewa bagi raja-raja China, kemudian berkembang menjadi budaya yang harus dilakukan di setiap pernikahan. Namanya budaya Teh Pai. Kegiatan ini merupakan pemberian teh dari mempelai kepada orang tua atau kerabat yang dituangkan dengan urutan yang tertua kemudian yang paling muda. Pelaksanaan budaya ini harus melalui ritual sembhayang kedua mempelai di depan altar leluhur sebagai bentuk penghormatan akan keberadaan nenek moyang di masa lalu supaya tidak terputus hingga keturunan seterusnya.
Budaya yang lahir sejak 1407 Masehi masih dilestarikan oleh komunitas China Benteng yang berda di Tangerang. Sebagai informasi awal kawasan Tangerang hingga Teluk Naga merupakan jalur kedatangan etnis China ke Indonesia ditandai dengan jalur air Sungai Cisadane menjadi saksi perjalanan tersebut hingga saat ini.
Arti simbolik dari budaya ini antara lain merupakan salam perpisahan terutama bagi mempelai perempuan yang akan meninggalkan keluarga besarnya menuju keluarga baru suaminya. Di tradisi China perempuan yang sudah menikah otomatis menjadi tanggung jawab suami dan keluarganya sehingga pemberian teh tersebut merupakan tanda terima kasih bagi calon mempelai kepada keluarga yang akan ditinggalkan.
Di Indonesia sendiri perkebunan teh paling luas berada di Jawa Barat yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara dengan luas hampir 21.000 hektar yang menghasilkan 50.000 ton per tahun. Berbagai jenis teh yang dihasilkan antara lain teh hijau, teh putih, teh hitam dan teh ooloong yang memiliki variasi khasiat dengan harga yang beraneka ragam.
Teh dengan harga terjangkau yang biasa dikonsumsi untuk minuman di pagi hari adalah teh hijau sedangkan teh dengan khasiat untuk kesehatan adalah teh putih yang mampu mengurangi rasa sakit pada penderita kanker. Harga teh putih sangat mahal dibandrol seharga Rp 2 juta per kilogram.
Tahun 1925 perusahaan Belanda memulai industrialisasi daun teh di Indonesia. Hal ini menjadikan teh tidak hanya menjadi komoditas yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia tapi juga diekspor ke berbagai negara. Banyak investor juga mengembangkan agrowisata khusus perkebunan teh seperti Museum Teh Tambi (Wonosobo), Museum Pabrik Teh Walini Gunung Mas Bogor, dan Agrowisata Teh Wonosari Malang Jawa Timur.
Leave a Reply