Sebuah Kajian Asal Muasal Budaya Amerika.
Mengkaji tentang Amerika Serikat tidak lepas dari asal usul sejak benua ini ditemukan oleh penjelajah Eropa, Christopher Colombus pada 1492. Bagi dunia barat yang umum kebanyakan orang mengesampingkan hal-hal yang mistis atau bersifat animisme memandang modernitas suatu bangsa, peradaban barat lah sebagai rujukan satu-satunya. Modernisasi identik dengan kemajuan di bidang Industri dan serentak dengan itu pula, perkembangan pesat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Modernisasi yang dipicu oleh penemuan-penemuan baru di bidang ilmu dan teknologi, diyakini akan melahirkan kemakmuran dan kesejahteraan. Itulah narasi umumnya orang-orang Amerika sekarang sebagai alasan pembenar mengapa orang-orang Amerika sekarang kaya raya.
Namun apakah orang-orang Amerika punya penjelasan mengapa meskipun sekarang jadi bangsa yang Makmur dan dan kaya namun jiwanya kering, tandus, dan bergaya hidup hedon?
Ada Dua Kutub perilaku orang Amerika yang berakarkan pada dua pandangan, pertama materialistik, paranoid, dan beranggapan masyarakat Amerika itu tidak memiliki kelas sosial yang dipisahkan oleh jurang yang lebar antara si kaya dan si miskin. Tapi benarkah seperti itu?
Namun, di sisi lain, orang Amerika itu hidup hemat, kerja keras, sederhana, dan efisien yang dengan jelas terlihat melalui struktur sosialnya. Boleh jadi hal itu tak lepas dari mentalitas umumnya masyarakat rantau di negeri orang, yang sebenarnya bukan monopoli orang-orang barat. Pembaca bisa perhatikan, masyarakat rantau Cina yang mukim di Indonesia turun-temurun. Umumnya mereka, meski tidak semua, kemudian jadi orang-orang sukses dan mumpuni di berbagai bidang kerja dan profesi di tanah air.
Sebagai warga rantau yang sebagian besarnya berasal dari kelas pedagang atau borjuis kecil Inggris, termasuk Skotlandian dan Irlandia, ketika mereka merantau ke benua Amerika baik di Selatan maupun Utara, logis ketika Amerika tidak memiliki akar budaya. Sebagai rantau, mereka sudah tercerabut dari akar budaya leluhurnya di Eropa seperti Inggris, Jerman, Belanda, Spanyol dan Prancis.
Apalagi imigran dari Eropa yang pindah ke benua Amerika, rata-rata berasal dari kelas menengah bawah atau kelas menengah borjuis, yang merasa tidak nyaman atau merasa dianggap rendah oleh kaum aristocrat dan bangsawan Inggris atau negara-negara Eropa lainnya seperti Jerman, Prancis, Belanda, dan bahkan dari negara-negara Eropa Timur yang kala itu masih berbentuk kerajaan. Memang benar bahkan negara ini tidak memiliki spektrum layaknya negara kerajaan eropa yang karakter masyarakatnya sangat menghormati kaum bangsawan. Bahkan hingga kini, kalau anda cermati, orang-orang Amerika meskipun sudah kaya raya dan jadi orang-orang yang bermartabat dan punya pengaruh politik, bahkan sanggup membeli jabatan publik. Tapi di alam bawah sadar psikologi kolektif bangsa Amerika, tetap merasa minder atau rendah diri, terhadap orang-orang Eropa terutama Inggris.
Dengan itu berarti secara budaya Amerika itu unik memang. Amerika praktis sejak abad 17, merupakan kumpulan negara-negara yang berbeda, baru kemudian menjelma jadi negara bangsa. Jadi, di Amerika itu, negara dulu ada baru membentuk sebuah bangsa. Berbeda dengan Indonesia, misalnya, berbagai suku bangsa yang berbeda-beda dari timur hingga ke barat, baru kemudian sebagai bangsa menegaskan dirinya sebagai satu bangsa, bangsa Indonesia, nah baru membangun negara.
Makanya kalau kemudian Amerika bersepakat pada saat memproklamirkan dirinya sebagai Amerika Serikat, sejatinya berbentuk Negara Federal, bukannya Negara Kesatuan seperti Indonesia. Meskipun motonya sepertinya sama. Amerika menggunakan jargon Unity in Diversity. Bersatu dalam Keragaman. Indonesia menggunakan motto Bhineka Tunggal Ika. Meskipun beragam namun tetap satu.
Jadi Negara Federasi sebagai payung keragamanan bangsa yang bersama-sama bermukim dan hidup di Amerika, memang cocok buat kondisi alamiah dan kondisi sosial geografis Amerika. Semua asal budaya dari berbagai negara manapun yang warga masyarakatnya mengadu nasib di Amerika, hadir di Amerika. Sehingga komposisi penduduknya yang beraneka ragam itu, Amerika kemudian berfungsi sebagai Melting-pot. Titik Temu dan Titik Penyatuan.
Meski orang-orang eropa berkulit putih yang mukim di Amerika, namun latar sosial-budayanya sebagai orang eropa juga beragam. Ada yang eropa muasal dari Italia, ada yang Jerman. Bahkan muasal dari Amerika Selatan yang umumnya Latin, ada sekitar 18% yang berasal dari amerika bagian selatan, yang muasal dari benua Afrika ada sekitar 13% kulit hitam, dan sisanya penduduk muasal dari Asia, Alaska. Jadi, Amerika sebagai bangsa sepertinya terlalu sederhana kalau disebut multi-ras. Amerika itu paduan pelbagai bangsa, yang sayangnya kemudian ras kulit putih lah yang mendominasi. Kalau tidak mau dikatakan sebagai bangsa penjajah di benua Amerika. Setidaknya orang-orang Indian, penduduk asli Amerika, memandaingnya seperti itu.
Oleh sebab Amerika adalah bangsa Neo-Eropa, maka tidak aneh kalau kemudian modernisasi dan perkembangan kemajuan teknologi seiring dengan derap maju Amerika. Bahkan sejak abad ke-20, Amerika dipandang sebagai kiblat atau rujukan bagi negara-negara yang ingin jadi maju sekaligus modern. Kalau sampai ada negara bisa maju tapi tidak mengikuti cetak biru Amerika, dianggap sebagai anomali atau kebetulan belaka.
Memang kalau mengikuti jalan cerita bagaimana Inggris dari negara feudal aristokratis tiba-tiba jadi negara yang maju di bidang industri, aspek modernitas Inggris, yang kelak mengilhami negara-negara eropa lainnya, memang berasal dari adanya temuan-temuan ilmu pengetahuan, seperti dtemukannya mesin uap oleh James Watt pada abad ke-18. Inilah yang kemudian industrialisasi Inggris maju pesat, mengungguli negara-negara eropa lainnya seperti Prancis, Jerman dan Belanda.
Akibat pesatnya industri dan teknologi, pada perkembangannya juga mengubah cara pandang masyarakat, termasuk dalam mendefinisikan jenis pekerjaan dan akhirnya juga irama kerja masyarakat. Aneka jenis pekerjaan manusia yang semula tradisional dipaksa keadaan harus berubah menggunakan mesin-mesin yang mempercepat pekerjaan dan meningkatkan volume hasil produksi.
Keunggulan mesin yang mampu bekerja lebih efisien dan meningkatkan kapasitas produksi, menyebabkan negara-negara barat yang mengikuti jejak keberhasilan Inggris, kemudian semakin memotivasi kalangan ilmuwan dalam bidang sains dan teknologi untuk semakin bergairah menghasilkan temuan-temuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga berdampak positif pada bidang ekonomi. Inggris dan Amerika yang pada abad ke-19 sejatinya merupakan Negara Neo-Eropa di benua Amerika, kemudian jadi bangsa yang kaya raya, Makmur dan sejahtera.
Hanya saja yaitu tadi, kemajuan pesat di bidang ekonomi dan perindustrian maupun ilmu pengetahuan dan teknologi, namun tidak disertai dengan semakin mendalamnya penghayatan sejarah peradaban dan budaya ruang geografis di tempat mana mereka sebagai entitas bangsa bermukim dan menetap sekarang ini.
Tidak dipungkiri bahwa banyak ketokohan yang muncul di Amerika saat ini, bukan berasal usul dari sebuah negara di kawasan barat namun hal ini sebenarnya fenomena yang penting buat ditelaah lebih mendalam. Bahwa kreativitas dan inovasi sebetulnya bisa tumbuh secara kondusif di dalam lanskap Amerika multi ras dan multi budaya. Fenomena Barrack Husein Obama dan Mamdani, hanya sekadar dua contoh nyata dan aktual.
Amerika sebagai simbol bangsa tercerahkan maupun pembebasan mungkin Patung liberty merupakan pesan simbolik yang paling masuk akal. Patung Liberty sebagai wujud kebebasan yang merupakan pemberian dari rakyat Perancis yang dipahat oleh seniman Perancis Frederic Auguste Bartholdi. Pahatan ini mencerminkan gambar seorang wanita dengan obor di tangan sebelah kanan dan sebelah kiri membawa buku yang mendeskripsikan tentang deklarasi Amerika Serikat. Kaki kirinya menginjak rantai yang terputus yang mencerminkan bahwa perbudakan harus dihapuskan di negara tersebut.
Prinsip kebebasan ini nyatanya merupakan sebuah prinsip bagi setiap orang bahwa Amerika adalah negara yang membuka diri untuk dikunjungi oleh siapa saja. Pemerintah Perancis kala itu memaknai patung liberty sebagai penyambutan kedatangan para imigran. Walaupun sejarah menyatakan bahwa Amerika Serikat boleh dijadikan landasan kenegaraan bagi para imigran yang mencari kehidupan sejahtera di negeri rantau, namun praktiknya saat ini semakin banyak yang berdatangan menjadi beban bagi negara tersebut hingga Presiden Donald Trump memberikan ultimatum pelarangan imigran masuk ke negaranya karena beban negara semakin bertambah. Pandangan ini tetap terpatahkan karena asal usul negara Amerika Serikat pada dasarnya adalah negara para imigran yang tidak memiliki kependudukan asli kecuali suku Indian.
Namun itu pula beban sejarah yang harus dipikul generasi muda Amerika sekarang, bahwa dari muasalnya para leluhur mereka dari benua eropa, bukan sekadar bermigrasi untuk memperbaiki nasib buruknya di negara asal. Tapi pada perkembangannya menjadi bagian integral dari strategi bangsa-bangsa Eropa menjajah dan menjarah benua Amerika.
Begitupun, entah ini kisah sejati yang berbasis kisah nyata atau propaganda, tapi di era 90-an sempat tayang sebuah film yang diproduksi oleh The Walt Disney berjudul Pocahontas. Film ini menceritakan tentang kisah cinta suku anak indian dengan pendatang dari Eropa yang mencoba melakukan eksplorasi terhadap tanah Amerika yang saat itu masih seperti hutan.
Dalam film tersebut digambarkan suku indian memiliki rambut dan mata berwarna hitam, tulang pipi menonjol, wajah lebar, kulit cokelat kemerahan, serta bibir yang agak menonjol. Saat ini di Amerika untuk mengenal seseorang bersuku indian atau bukan sudah sangat sulit karena seluruh keturunannya banyak yang menikah dengan kaum imigran.
Pada akhirnya siapa yang lebih dulu menjadi modern, menciptakkan industri, dan menguasai teknologi, mereka yang akan memimpin dunia ini namun budaya tetaplah warisan yang memiliki nilai yang selalu dicari terutama oleh mereka yang sudah bingung uangnya mau dialihkan kemana.
Leave a Reply